Sebuah Arti Pertemuan

 Saat itu, aku berada di jalan yang belum tentu disukai-Nya. Namun, Allah tetap menuntunku hingga aku benar-benar kembali sadar jika aku salah. Kelalaian-kelalaian yang awalnya aku anggap biasa beranjak pindah menjadi boomerang untuk hidupku. Berharap kepada manusia memanglah sakit. Aku pernah merasakan hal yang sama. Berubah menjadi lebih baik selain demi-Nya. Kita dipertemukan karena takdir.  Dan Allah Maha Mengetahui Segala Sesuatu. 


Beberapa keinginan untuk menuju jenjang serius terucapkan, dan pada akhirnya kita mulai untuk belajar komitmen. Berat, ya sungguh berat untuk sekarang. Karena kita saling berjauhan. Tapi tak mengapa, ada hikmahnya juga. Agar kita tidak melakukan hal-hal yang tidak Ia sukai. 


Yang dimulai dengan perkenalan dengan nyaman. Aku takut nyanan bisa menjadi ancaman. Ku mohon pada-Mu, agar aku diberi petunjuk apakah semua ini layak diteruskan atau bisa berhenti sampai di sini. Hati manusia siapa yang tahu. Perlahan-lahan waktu memberikan jeda jarak untuk kita merenungi masing-masing hati. Tak ada yang menyenangkan dan semua terasa hampa. Allah, maafkan hambamu ini yang telah salah dalam menaruh harap. 


Bismillah, semoga kami diberi kemudahan untuk menjawab penantian ini dan berharap akan menjadi happy ending akhirnya. Usaha untuk meyakinkan orangtua pun tak luput menjadi perhatian. Yang berusaha semaksimal mungkin untuk memperbaiki diri karena Allah, dan semoga selalu dikuatkan istiqomahku di jalan-Nya. 


Jika ia adalah takdirku, mudahkanlah kami untuk menuju ibadah terpanjang yaitu menikah semata-mata untuk beribadah kepada-Mu. Mudahkanlah kami untuk meneguh azzam agar kami bisa melawan nafsu duniawi. Berilah kami kemudahan agar kami bisa mendapatkan restu orangtua, dan bila tidak bisa bersatu, maka hilangkanlah perasaan itu, dan semoga diberi pengganti yang lebih baik dan menerima keputusan Terindah-Mu. Aamiin

Komentar

Posting Komentar